Penutupan Gerai H&M dan Krisis Struktural Fast Fashion Global: Sebuah Analisis
- Dr. Zeanette Tiarma Lisbet, SE,MM,CHCP, CHCGM
- 2025-12-03 15:07:35

https://www.the-sun.com/money/15552077/hm-store-shutdowns-nyc-january-close-two-hundred-stores
Pengumuman rencana penutupan sekitar 200 gerai H&M pada tahun 2025 telah menarik perhatian luas dan dapat dibaca sebagai indikator bahwa industri fast fashion global sedang berada dalam tekanan struktural yang semakin intens. Walaupun secara resmi langkah tersebut dijelaskan sebagai upaya optimalisasi jaringan toko, konteks yang lebih luas menunjukkan bahwa keputusan ini berkaitan dengan dinamika perubahan besar pada pola konsumsi, tekanan regulasi, kondisi lingkungan global, serta munculnya model bisnis baru yang lebih agresif. Untuk memahami signifikansi fenomena ini, pemahaman mengenai konsep fast fashion menjadi penting sebelum memasuki analisis yang lebih mendalam.
Fast fashion umumnya dipahami sebagai model produksi industri pakaian yang mengutamakan kecepatan, harga murah, dan volume produksi yang tinggi. Model ini memungkinkan perusahaan untuk merespons perubahan tren dengan cepat melalui siklus produksi pendek dan distribusi yang masif. Produksi dilakukan terutama di negara berkembang dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah, sehingga harga akhir produk dapat ditekan secara signifikan. Dalam literatur, fast fashion dipandang sebagai fenomena yang mendorong budaya konsumsi instan di mana pakaian dibeli, digunakan hanya beberapa kali, lalu dibuang seiring berputarnya tren baru (Earth.org, 2025). Siklus produksi dan konsumsi semacam ini menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang luas.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa fast fashion memberikan kontribusi besar terhadap krisis lingkungan global. Industri fashion menghasilkan 8–10 persen dari total emisi karbon dunia (Economics Observatory, 2025), dan pada tahun 2018 alone, emisi gas rumah kaca dari sektor ini mencapai 2,1 miliar ton CO₂e (ScienceDirect, 2024). Selain itu, industri tekstil mengonsumsi sekitar 93 miliar meter kubik air setiap tahun (Manglai, 2024), dan produksi satu kaus katun membutuhkan sekitar 2.650 liter air (Earth.org, 2025). Limbah tekstil global juga menjadi isu serius, dengan total mencapai 92 juta ton per tahun dan kemungkinan meningkat menjadi 134 juta ton pada 2030 jika tidak ada perubahan kebijakan (BusinessWaste, 2024). Tingkat daur ulang tekstil yang masih berada di kisaran 12–15 persen semakin memperburuk situasi (BusinessWaste, 2024). Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai skala permasalahan, tabel berikut menyajikan rangkuman data utama mengenai dampak fast fashion.
Tabel 1. Dampak Fast Fashion Global
|
Aspek Dampak |
Data / Estimasi |
Sumber |
|
Kontribusi terhadap emisi karbon global |
8–10% |
Economics Observatory (2025) |
|
Total emisi industri fashion |
2,1 miliar ton CO₂e/tahun |
ScienceDirect (2024) |
|
Konsumsi air industri tekstil global |
93 miliar m³/tahun |
Manglai.io (2024) |
|
Konsumsi air untuk satu kaus katun |
±2.650 liter |
Earth.org (2025) |
|
Produksi limbah tekstil |
92 juta ton/tahun |
BusinessWaste (2024) |
|
Proyeksi limbah tekstil 2030 |
134 juta ton/tahun |
BusinessWaste (2024) |
|
Tingkat daur ulang tekstil |
12–15% |
BusinessWaste (2024) |
|
Pakaian digunakan <10 kali sebelum dibuang |
>60% konsumsi global |
Earth.org (2025) |
|
Pertumbuhan produksi pakaian 2000–2020 |
2× lipat |
WRI (2023) |
Data-data tersebut menunjukkan bahwa model fast fashion tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar. Penutupan gerai H&M dapat dipahami dalam konteks perubahan paradigma ini. Perilaku konsumen global mulai bergeser dari konsumsi impulsif menuju preferensi terhadap produk yang lebih tahan lama, ramah lingkungan, serta memiliki nilai etis yang lebih kuat (ScienceDirect, 2022). Di berbagai negara, terutama di kalangan generasi muda, thrifting, circular fashion, dan preloved market semakin populer. Pergeseran preferensi ini mengurangi ketergantungan konsumen pada model belanja cepat yang selama ini menjadi fondasi keuntungan fast fashion.
Selain perubahan perilaku konsumen, tekanan dari model ultra-fast fashion berbasis digital juga menjadi faktor penting. Perusahaan-perusahaan ini menggunakan algoritma dan big data untuk merespons tren secara real-time, menghasilkan ribuan desain baru dalam hitungan hari. Kemampuan mereka untuk memproduksi pakaian dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan merek tradisional seperti H&M menimbulkan tekanan kompetitif signifikan yang memaksa perusahaan besar meninjau ulang struktur biaya dan strategi operasi mereka (FT.com, 2024).
Tekanan regulasi juga berkontribusi pada perubahan struktur industri fashion. Uni Eropa melalui kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) semakin menegaskan kewajiban produsen untuk bertanggung jawab atas limbah yang mereka hasilkan. Kebijakan ini menuntut perusahaan untuk meningkatkan kemampuan daur ulang, memperpanjang umur pakai produk, dan memberikan informasi transparan mengenai rantai pasok (Europarl, 2024). Regulasi anti-greenwashing semakin membatasi klaim-klaim keberlanjutan yang tidak didukung data, sehingga mendorong perusahaan untuk benar-benar mengubah praktik produksi mereka. Dalam kondisi seperti ini, produksi massal berbiaya rendah yang menjadi karakteristik fast fashion menjadi semakin sulit dipertahankan secara ekonomis.
Dari perspektif sosial, restrukturisasi industri fast fashion memiliki implikasi signifikan bagi jutaan pekerja di negara berkembang, termasuk Indonesia. Industri tekstil dan garmen Indonesia sangat bergantung pada permintaan dari pasar global, sehingga penurunan pesanan dapat berdampak langsung pada kondisi tenaga kerja. Studi-studi mengenai industri garmen di Asia menunjukkan bahwa pekerja di sektor ini sering kali berada dalam posisi rentan—dengan upah rendah, jam kerja panjang, dan perlindungan sosial terbatas (Earth.org, 2025; Clean Clothes Campaign, 2024). Dengan demikian, transisi menuju model industri yang lebih berkelanjutan perlu diiringi dengan kebijakan yang memastikan bahwa pekerja tidak menjadi korban utama perubahan ekonomi ini.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan peluang strategis. Penurunan dominasi fast fashion global membuka ruang bagi pengembangan industri fashion berkelanjutan yang berbasis material lokal, desain etis, dan inovasi teknologi ramah lingkungan. Kain berbasis serat alami, upcycling, circular fashion, serta brand lokal yang menonjolkan identitas budaya memiliki peluang besar untuk tumbuh dalam lanskap pasar yang semakin sadar lingkungan. Selain itu, adopsi teknologi daur ulang tekstil dan peningkatan transparansi rantai pasok dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Pada akhirnya, penutupan gerai H&M mencerminkan titik balik penting dalam industri fashion global. Model fast fashion yang selama bertahun-tahun memfasilitasi konsumsi instan dan produksi berbiaya rendah kini menghadapi tantangan besar dari sisi lingkungan, regulasi, sosial, dan perubahan perilaku konsumen. Industri fashion global sedang bergerak menuju transformasi struktural yang menempatkan keberlanjutan sebagai prinsip utama. Model ekonomi sirkular, yang menekankan pada pengurangan limbah, penggunaan material berkelanjutan, serta perpanjangan umur produk, menjadi semakin relevan dan mendesak.
Transformasi ini bukan hanya penting untuk kelestarian bumi, tetapi juga untuk memastikan bahwa industri fashion masa depan lebih adil, manusiawi, dan bertanggung jawab. Bagi Indonesia, momentum ini perlu dimanfaatkan melalui penguatan industri fashion berkelanjutan, inovasi material lokal, serta kebijakan yang melindungi pekerja dan mendukung transformasi industri. Dengan demikian, restrukturisasi global yang sedang berlangsung dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk membangun model industri fashion yang berdaya saing tinggi sekaligus berkelanjutan.
Daftar Referensi
BusinessWaste (2024) Textile Waste Facts. Available at: https://businesswaste.com
Clean Clothes Campaign (2024) Garment Worker Rights in Asia.
Earth.org (2025) Fast Fashion’s Detrimental Effect on the Environment. Available at: https://earth.org
Economics Observatory (2025) How does fast fashion affect the environment? Available at: https://www.economicsobservatory.com
Europarl (2024) EU Strategy for Sustainable and Circular Textiles. Financial Times (2024) Fast-Fashion Competition and Market Dynamics.
Manglai.io (2024) Fast Fashion Glossary. ScienceDirect (2022) Consumer Trends Toward Sustainable Fashion.
ScienceDirect (2024) Global Emissions of the Fashion Industry. World Resources Institute (2023) Apparel Production and Waste Report.